TAIWAN– Himpunan Mahasiswa (HIMMAS) UT Taiwan sukses menyelenggarakan webinar daring melalui platform Zoom Meeting dalam rangka memperingati Hari Buruh 2026 pada Minggu (24/5/2026). Mengangkat tema "Suara Migran, Media, dan Masa Depan Ketenagakerjaan di Taiwan," acara ini berhasil menarik antusiasme ratusan peserta yang didominasi oleh komunitas pekerja migran dan mahasiswa Indonesia di Taiwan.
Webinar ini dirancang sebagai wadah diskusi interaktif untuk membedah tantangan, peluang, serta peran strategis media dalam menyuarakan hak-hak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Acara dipandu secara dinamis oleh Eriyah, anggota aktif HIMMAS UT Taiwan yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC).
Untuk mengupas tuntas tema besar tersebut, HIMMAS UT Taiwan menghadirkan dua narasumber utama yang berkompeten di bidangnya:
Kaili Lee – Direktur GOH Migrants (The Garden of Hope Foundation), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang sejak 2010 aktif mendampingi, menyediakan rumah aman (shelter), serta memperjuangkan hak dan perlindungan hukum PMI di Taiwan.
Linda Linarta – Penyiar senior dari RTISI Taiwan yang memiliki pengalaman kaya di dunia penyiaran dan fokus menjembatani informasi edukatif bagi masyarakat migran di perantauan.
Sebelum membedah materi inti, acara dibuka dengan rangkaian sambutan dari jajaran pengurus organisasi dan pihak Universitas Terbuka Layanan Luar Negeri (UTLLN) yang memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya webinar ini.
Ketua HIMMAS UT Taiwan, Rafif Jamil, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen nyata mahasiswa untuk terus hadir sebagai wadah dan agen edukasi bagi masyarakat migran.
"Melalui tema ini, kami ingin mengajak teman-teman PMI untuk tidak hanya fokus pada pekerjaan, tetapi juga melek informasi dan hukum. HIMMAS akan terus berkomitmen menjadi wadah yang mendukung peningkatan kapasitas diri para pekerja migran di Taiwan," ujar Rafif.
Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ibu Ida Rosida selaku Ketua Ormawa UTLLN. Beliau menekankan pentingnya sinergi antar-organisasi mahasiswa dalam mengawal isu-isu krusial seperti ketenagakerjaan.
Sementara itu, Ibu Dina yang mewakili UTLLN memberikan motivasi besar kepada para peserta. Beliau berpesan agar para pekerja yang juga berstatus mahasiswa bisa seimbang dalam membagi waktu antara bekerja, kuliah, dan kegiatan sosial. Ibu Dina juga memuji inisiatif HIMMAS yang sadar betul bahwa media punya peran penting untuk melindungi pekerja di zaman digital seperti sekarang.
Narasumber pertama, Kaili Lee selaku Direktur GOH Migrants (The Garden of Hope Foundation), banyak berbagi cerita tentang cara melindungi diri secara hukum dan menjaga kesejahteraan sosial selama bekerja di Taiwan, berkaca dari banyaknya kasus nyata yang sudah ditangani oleh GOH Migrants.
Di sesi kedua, Linda Linarta menjelaskan bahwa media (seperti koran, radio, TV, dan media sosial) bukan cuma alat hiburan, tapi punya tugas besar untuk menyebarkan berita yang benar dan meluruskan info yang salah. Melalui media yang resmi, suara dan keluhan para pekerja migran bisa tersampaikan dengan baik kepada publik dan pemerintah.
Linda juga menjabarkan 3 peran penting media dalam dunia kerja:
1. Menyuarakan Hak Menjadi penyambung lidah untuk membela hak-hak buruh.
2. Memberi Edukasi Membantu menjelaskan aturan kerja dan hukum yang sering kali sulit dipahami di lapangan.
3. Menyediakan Data yang Benar Menyajikan berita yang jujur tentang pelatihan kerja, aturan hukum terbaru, hingga membongkar kasus ketidakadilan.
Sebagai contoh nyata, Rti (Radio Taiwan International) Siaran Indonesia selalu rutin membuat konten yang berguna untuk PMI, mulai dari video panduan cara menyelamatkan diri saat gempa/bencana, sampai acara penghargaan untuk karya tulis teman-teman migran.
Bagian yang paling menarik dari webinar ini adalah ajakan agar semua PMI lebih cerdas dalam menyaring informasi di media sosial, supaya tidak gampang terhasut oleh berita bohong (hoaks).
Dalam diskusi ini, dibahas dua contoh kasus salah paham yang sempat bikin heboh:
Sempat ada berita yang bikin panik tentang penghentian penerbangan ke luar negeri dan gosip pengiriman tentara ke Gaza akibat perang di Timur Tengah. Padahal, berita itu heboh hanya karena wartawan salah mengartikan ucapan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Media yang bersangkutan pun akhirnya meminta maaf. Di sini kita belajar bahwa berita harus berdasarkan fakta, bukan opini pribadi si penulis.
Sempat viral komentar negatif dari sebagian buruh yang menganggap program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah tidak ada gunanya. Setelah diluruskan oleh Ketua Serikat Buruh (KSPSI), Andi Gani, ternyata yang mengeluh itu adalah buruh yang masih jomblo/lajang. Sedangkan bagi buruh yang sudah berkeluarga dan punya anak, program ini justru sangat membantu mengurangi beban ekonomi mereka.
Lewat edukasi ini, HIMMAS UT Taiwan berharap teman-teman PMI di Taiwan tidak langsung percaya begitu saja dengan info yang beredar di grup WhatsApp, Facebook, atau TikTok. Yuk, jadi pekerja yang kritis, cerdas digital, dan pintar menjaga diri dari hoaks demi keamanan dan kenyamanan kita selama bekerja di negeri orang!
Mau ikut kuliah atau seru-seruan bareng organisasi kami? Yuk, kenalan lebih dekat dan ikuti akun resmi HIMMAS UT Taiwan di:
Instagram: @himmas_utt
Facebook: Himmas Utt
TikTok: @himmasuttaiwan_
YouTube: Himmas UT Taiwan









.jpeg)
















