Kamis, 25 Juni 2026

NGAJI MILENIAL LINTAS NEGARA: Kenapa Doa Kita Belum Terkabul?

 Berdoa merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus sarana bagi setiap hamba untuk berserah diri dan menyampaikan segala keinginan kepada Sang Pencipta. Namun, tidak jarang muncul pertanyaan di dalam benak kita mengenai mengapa beberapa doa yang telah dipanjatkan secara terus-menerus belum juga menampakkan hasilnya. Pertanyaan mendasar yang sering kali menggelitik hati ini menjadi topik utama dalam acara "Ngaji Milenial Lintas Negara" yang diselenggarakan oleh HIMMAS UT pada hari Sabtu, 16 Mei 2026 yang lalu.


Acara yang digelar secara daring melalui siaran langsung di kanal YouTube ini mengusung tema kajian kitab yang sangat relevan, yaitu "Kenapa doa kita belum terkabul?". Kajian ini bersifat terbuka untuk umum dan berhasil mempertemukan jemaah serta mahasiswa dari berbagai belahan negara, khususnya yang berada di zona waktu WIB dan TST. Acara dibuka secara resmi oleh Agustin Rahayu yang bertindak sebagai pembawa acara (MC). Untuk menambah keberkahan dan kekhusyukan malam itu, Azmi Alhafidh memimpin pembacaan tahlil bersama sebelum melangkah ke sesi inti.

Memasuki acara utama, diskusi dipandu secara interaktif oleh Cak Insi selaku moderator. Narasumber atau pemateri tunggal pada kajian kali ini adalah ulama yang kharismatik, K.H. Mas'ud Sya'roni. Beliau mengupas tuntas hakikat doa dari sudut pandang kitab kuning dan hikmah Islam, sekaligus memberikan jawaban-jawaban menyejukkan atas kegelisahan generasi muda saat ini.

Dalam paparannya, K.H. Mas'ud Sya'roni menjelaskan bahwa pada hakikatnya tidak ada doa seorang mukmin yang diabaikan oleh Allah SWT. Beliau menekankan pentingnya memahami tiga cara Allah dalam mengabulkan doa hambanya: dikabulkan langsung di dunia sesuai permintaan, ditunda untuk dijadikan simpanan pahala di akhirat, atau digantikan dengan dihindarkannya sang hamba dari suatu musibah yang sepadan. Oleh karena itu, belum terwujudnya suatu keinginan di dunia bukanlah tanda bahwa Allah tidak mendengar, melainkan wujud kasih sayang-Nya yang sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik.


Selain itu, kajian ini juga mengingatkan para peserta untuk senantiasa melakukan introspeksi diri. Terkadang, lambatnya pengabulan doa dipengaruhi oleh faktor-faktor internal, seperti makanan atau harta yang kurang berkah, serta kurangnya adab dan rasa optimis saat meminta. Melalui forum lintas negara ini, HIMMAS UT berharap dapat terus memfasilitasi ruang belajar keagamaan yang inklusif bagi seluruh masyarakat dan mahasiswa, agar tetap istikamah dan berprasangka baik dalam setiap untaian doa yang dipanjatkan.

Yuk, Tetap Hubungi HIMMAS UT Taiwan! Jangan lupa untuk ikuti, sukaisemua media sosial resmi kami supaya tidak ketinggalan info kuliah dan kegiatan seru lainnya:


PENULIS : ADE NURRACHMA

Rabu, 10 Juni 2026

webinar hari kartini HIMMAS UT TAIWAN, "semangat Kartini di Perantauan: Perempuan Indonesia Berdaya Melalui Pendidikan dan Kepemimpinan"

TAIWAN – Hari Kartini selalu jadi momen spesial buat kita semua. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengingat kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam membela hak-hak perempuan, terutama dalam hal pendidikan. Tapi, bagaimana jadinya kalau semangat perjuangan itu dibawa oleh para perempuan tangguh yang saat ini sedang berjuang mencari nafkah dan belajar di negeri orang?

Menjawab hal seru tersebut, pada hari Minggu, 26 April 2026 lalu, Himpunan Mahasiswa UT Taiwan (HIMMAS UT Taiwan) sukses menggelar acara Webinar Hari Kartini dengan tema yang sangat membakar semangat: “Semangat Kartini di Perantauan: Perempuan Indonesia Berdaya Melalui Pendidikan dan Kepemimpinan”.

Acara ini bisa berjalan dengan sangat seru, akrab, dan hidup berkat kehadiran tiga perempuan hebat yang memandu jalannya acara:
Narasumber (Pembicara): Anggraeni Kumala Dewi, Ph.D.
Moderator (Pemandu Diskusi): Aan Antisah
MC (Pembawa Acara): Septiana.


Dengan gaya penyampaian yang santai tapi penuh ilmu, Ibu Anggraeni Kumala Dewi membagikan pandangan mendalam tentang bagaimana perempuan di perantauan tidak cuma sekadar bertahan hidup, tapi juga harus bisa memimpin diri sendiri dan mengambil peran penting di masyarakat lewat jalur pendidikan.

salah satu bagian paling menarik dan menyentuh hati dalam acara ini adalah pembahasan tentang tindakan nyata untuk memajukan kaum perempuan. Di perantauan, kemandirian adalah kunci utama. Ada tiga modal penting yang harus disiapkan untuk masa depan yang cerah:

  1. Skill (Keterampilan): Terus asah kemampuan diri selama ada di Taiwan (misalnya belajar bahasa, komputer, atau keterampilan usaha).
  2. Rencana: Punya rencana yang jelas setelah nanti pulang ke Indonesia. (Apakah mau buka usaha? Mau kerja lagi? Atau mau lanjut kuliah?).
  3. Tabungan: Pintar-pintar mengelola keuangan supaya hasil keringat di perantauan tidak habis sia-sia dan bisa jadi modal di masa depan.

Di sesi tanya-jawab dan berbagi cerita, para peserta diajak untuk menuliskan harapan mereka lewat papan tulis digital. Pertanyaannya sangat menyentuh: "Apa harapan Kartini bagi jiwa yang sedang berjuang?"

Berbagai pesan penuh haru dan rasa optimis saling bermunculan. Banyak peserta yang berharap agar perjuangan mereka di Taiwan bisa jadi batu loncatan untuk menjadi perempuan yang mandiri secara keuangan, bisa membahagiakan orang tua di kampung halaman, dan bisa menjadi contoh yang baik buat anak-anak mereka kelak.

Ada satu kalimat indah yang menjadi kutipan paling berkesan di acara ini:

"Mekarlah dengan cantik, karena setiap harapan adalah langkah menuju terang."

"Kita semua adalah pemimpin – minimal untuk diri kita sendiri." Menjadi pemimpin buat diri sendiri artinya kita harus bisa:


Mengatur waktu
(kapan bekerja, kapan belajar, kapan istirahat), Mengatur emosi (tetap sabar dan kuat saat menghadapi masalah), Mengatur uang (bisa membedakan kebutuhan dan keinginan), Mengatur masa depan (fokus pada impian yang mau dicapai)

 

Semangat Kartini tidak pernah hilang. Semangat itu hidup di dalam diri setiap perempuan yang terus melangkah dan menolak untuk menyerah. Kami dari pengurus HIMMAS UT Taiwan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta atas ilmu, cerita, dan sambutan yang begitu hangat sepanjang acara.

Sampai jumpa di kegiatan HIMMAS UT Taiwan berikutnya! Tetap semangat belajar, tetap menginspirasi, dan mari kita sukses bersama-sama! 

Yuk, Tetap Hubungi HIMMAS UT Taiwan! Jangan lupa untuk ikuti, sukaisemua media sosial resmi kami supaya tidak ketinggalan info kuliah dan kegiatan seru lainnya:


Penulis : Lidia Andriani

 


 

Workshop Public Speaking dan MC di KDEI Taipei

 

Semangat meningkatkan kemampuan komunikasi di kalangan diaspora Indonesia di Taiwan terlihat dalam kegiatan “Training Workshop Speak with Impact – Dari Gemetar jadi Bersinar” yang digelar pada Sabtu (7/6) di hall exhibition center KDEI Taipei. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Indonesia Diaspora Network Taiwan bersama Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei dan diikuti oleh masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang di Taiwan.

Pelatihan ini hadir sebagai ruang belajar untuk meningkatkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan berbicara di depan umum. Selain mendapatkan materi public speaking, para peserta juga berkesempatan memperluas relasi dan bertemu sesama diaspora Indonesia yang tinggal di berbagai wilayah Taiwan.

Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo, dalam sambutannya menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pengembangan keterampilan bagi masyarakat Indonesia di Taiwan. Menurutnya, pelatihan seperti ini dapat memberikan manfaat positif dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia profesional. Senada dengan hal tersebut, Ketua IDN Taiwan, Tatag Yufitra Rus, berharap kegiatan ini mampu menjadi sarana pembelajaran sekaligus mempererat hubungan antardiaspora Indonesia di Taiwan.

Workshop ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Agung Antonius dan Maria Catharina Laras. Keduanya membagikan pengalaman, tips, serta praktik langsung mengenai cara berbicara di depan publik dengan percaya diri dan efektif.

Dalam sesi materinya, Agung Antonius menjelaskan pentingnya etika saat mengobrol dengan orang baru. Ia menyampaikan bahwa dalam membangun komunikasi yang baik, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak langsung ditanyakan kepada lawan bicara, seperti gaji, umur, alamat pribadi, pandangan politik, status pribadi, hingga agama. Menurutnya, memahami batasan dalam percakapan dapat membantu menciptakan komunikasi yang nyaman dan saling menghargai.

Sementara itu, Maria Catharina Laras membahas teknik menjadi seorang MC yang baik dan profesional. Ia menjelaskan bahwa seorang MC harus mampu menguasai panggung, memahami isi teks atau susunan acara, serta mengetahui karakter audiens yang dihadapi. Selain itu, Maria juga membagikan cara mengatasi rasa gugup atau gemetar saat tampil di depan umum, seperti mempersiapkan diri dengan baik dan tetap percaya diri saat berbicara.

Maria menambahkan bahwa seorang MC harus aktif, komunikatif, dan mampu mengelola situasi ketika terjadi hal-hal tak terduga selama acara berlangsung. Kemampuan improvisasi dan menguasai berbagai suasana juga menjadi poin penting agar acara tetap berjalan lancar dan menarik bagi audiens.

Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak untuk mencoba praktik berbicara langsung di depan peserta lainnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Indonesia di Taiwan semakin percaya diri untuk berbicara di depan umum dan mampu menyampaikan ide maupun gagasan secara efektif.

Penulis : Endang Fitriyani

Podcast Himmas UTT "Mengenal Pendidikan, Organisasi, dan Cerita Menjadi Mahasiswa Universitas Terbuka"





Taiwan, 12 April 2026 HIMMAS UT Taiwan pertama kali menghadirkan podcast inspiratif yang disiarkan secara langsung melalui Tiktok Himmas UT Taiwan. Podcast ini dipandu oleh Ade Nurachma dengan menghadirkan tiga narasumber hebat, yaitu Rafif Jamil, Endang Fitriyani, dan Arisah. Dalam sesi podcast tersebut, mereka berbagi pengalaman, tantangan, dan motivasi selama menjalani perkuliahan di Universitas Terbuka Taiwan sambil bekerja dan berorganisasi.


Sebelum mulai berbagi cerita, Ade Nurachma sebagai Host terlebih dahulu mengajak seluruh narasumber untuk memperkenalkan diri dan menyapa para audiens yang menyaksikan siaran langsung podcast tersebut. Suasana hangat dan penuh semangat terasa ketika masing-masing narasumber memperkenalkan diri serta menyamoaikan rasa senang bisa di undang dan bergabung dalam podcast HIMMAS UT Taiwan. 

Dalam podcast tersebut, Ade Nurrachma mengajukan beberapa pertanyaan kepada para narasumber mengenai pengalaman mereka selama menjalani kuliah dan organisasi di Taiwan. Kepada Rafif Jamil, Ade menanyakan bagaimana dirinya mampu bertahan sebagai Ketua HIMMAS UT Taiwan serta tantangan apa saja yang dihadapi selama memimpin organisasi. Kepada Endang Fitriyani, Ade menanyakan alasan memilih melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka Taiwan sambil bekerja serta bagaimana cara membagi waktu antara pekerjaan, belajar, dan organisasi. Sementara kepada Arisa, Ade menanyakan bagaimana perasaannya setelah berhasil menjadi mahasiswa UT Taiwan serta bagaimana dirinya membagi waktu antara pekerjaan, kegiatan sehari-hari, dan perkuliahan.
Menjawab pertanyaan tersebut, Rafif Jamil menjelaskan bahwa dirinya tetap bertahan menjalankan amanah sebagai Ketua HIMMAS karena ingin terus mengembangkan diri dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Menurutnya, setiap tantangan yang datang selalu memberikan pelajaran baru yang sangat berharga. Walaupun tidak mudah menghadapi berbagai tanggung jawab organisasi, semua proses tersebut menjadi pengalaman yang membentuk dirinya menjadi lebih kuat dan dewasa.

Endang Fitriyani mengungkapkan bahwa dirinya memilih melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka Taiwan karena adanya kesempatan untuk kembali meraih pendidikan yang sebelumnya belum sempat didapatkan. Selain ingin mendapatkan ilmu, ia juga ingin mengembangkan pengetahuan, memperluas wawasan, serta memperbanyak relasi melalui organisasi HIMMAS UT Taiwan. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, Endang selalu mengutamakan pekerjaan terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan waktu senggang untuk belajar, sedangkan malam hari digunakan untuk aktif berkontribusi di organisasi.

Sementara itu, Arisa mengungkapkan rasa senang dan tidak menyangka akhirnya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah sebagai mahasiswa UT Taiwan. Baginya, kesempatan tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga. Arisa juga menjelaskan bahwa menjalani kuliah sambil bekerja membutuhkan kemampuan membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, kegiatan sehari-hari, dan tanggung jawab kuliah. Di akhir sesi, ia menyampaikan harapannya agar dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik hingga wisuda nanti.

Tidak hanya berbagi pengalaman bersama para narasumber, Ade Nurrachma juga memberikan kesempatan kepada para audiens yang menyaksikan siaran langsung untuk bertanya seputar pendidikan, organisasi, pengalaman kuliah di Taiwan, maupun hal-hal lainnya. Para narasumber pun secara bergantian menjawab pertanyaan dari audiens dengan penuh antusias dan memberikan berbagai motivasi serta pengalaman yang inspiratif bagi para penonton podcast.

Melalui podcast ini, HIMMAS UT Taiwan berharap dapat memberikan motivasi dan semangat bagi para mahasiswa Indonesia di Taiwan untuk terus melanjutkan pendidikan, mengembangkan diri, dan aktif dalam organisasi meskipun memiliki berbagai kesibukan pekerjaan. Podcast yang disiarkan langsung melalui TikTok HIMMAS UT Taiwan ini juga menjadi wadah berbagi inspirasi dan pengalaman antar mahasiswa perantau.

Terus pantau akun sosial media Himmas UT Taiwan untuk mengikuti setiap kegiatan seru, dan nantikan podcast-podcast berikutnya dengan topik pembahasan menarik lainnya dan narasumber-narasumber yang luar biasa !

Instagram : @himmas_utt

Facebook : Himmas Utt

Tiktok : @himmasutttaiwan_

Youtube : Himmas UT Taiwan


Penulis : Endang Fitriyani











Rabu, 03 Juni 2026

Partisipasi Mahasiswa UT Taiwan dalam THUISA CUP 2026



TAIWAN, 23 Mei 2026
mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Taiwan kembali menunjukkan eksistensinya di kancah regional. Kali ini, tim futsal UT Taiwan yang berlaga di bawah nama Cosmo UT turut berpartisipasi dalam ajang bergengsi THUISA CUP 2026. Kompetisi antarmahasiswa ini diselenggarakan secara terpusat di Universitas Tunghai, Taiwan. 

Sepanjang turnamen berlangsung, tim Cosmo UT berhasil menampilkan performa yang impresif. Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, mereka juga menunjukkan semangat sportivitas yang tinggi, kerja sama tim yang solid, serta rasa kebersamaan yang erat di tengah ketatnya persaingan antarmahasiswa Indonesia di Taiwan. 

THUISA CUP merupakan agenda tahunan yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa Indonesia dari berbagai universitas serta organisasi kemahasiswaan di Taiwan. Melalui berbagai cabang kompetisi seperti futsal, basket, dan Mobile Legends, kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk mempererat hubungan antarmahasiswa, sekaligus menumbuhkan semangat persaudaraan, sportivitas, dan kolaborasi positif di perantauan.

Pada cabang olahraga futsal, persaingan tahun ini terbilang cukup sengit. UT Taiwan mengirimkan satu tim terbaiknya untuk bersaing dengan peserta dari berbagai kampus dan organisasi mahasiswa Indonesia lainnya, termasuk Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tainan serta sejumlah universitas terkemuka di Taiwan. 


Meski menghadapi lawan-lawan tangguh dengan tensi pertandingan yang tinggi, tim Cosmo UT mampu mempertahankan ritme permainan yang solid dan penuh semangat hingga babak akhir. Berkat kerja sama yang terorganisasi, modal semangat juang yang tinggi, serta komitmen penuh untuk menjunjung nilai fair play, tim futsal UT Taiwan sukses meraih Juara 4.

Pencapaian ini menjadi sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus merefleksikan partisipasi aktif dan kontribusi nyata mahasiswa UT Taiwan dalam dinamika kegiatan kemahasiswaan di luar negeri.

Bagi segenap sivitas akademika, keikutsertaan dalam THUISA CUP 2026 bukan sekadar urusan menang atau kalah. Momentum ini merupakan kesempatan berharga untuk memperluas jaringan pertemanan, mempererat persaudaraan antarmahasiswa Indonesia, serta membangun atmosfer kebersamaan yang positif di lingkungan pekerja dan pelajar di Taiwan. Diharapkan pencapaian ini dapat menjadi pemantik motivasi bagi seluruh mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan untuk terus konsisten berpartisipasi dan mengukir prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Mari bersama-sama menjaga momentum positif ini dan terus membawa nama baik Universitas Terbuka pada berbagai forum dan kompetisi di masa yang akan datang. 

Dapatkan informasi dan dokumentasi seru lainnya seputar kegiatan mahasiswa UT Taiwan melalui media sosial resmi HIMMAS berikut ini:


penulis: Novirwan D. Saputra
edit by : Lidia Andriani

Minggu, 31 Mei 2026

Webinar Hari Buruh 2026 HIMMAS UT TAIWAN, Kupas Tuntas Suara Migran, Media, dan Masa Depan Ketenagakerjaan



TAIWAN
– Himpunan Mahasiswa (HIMMAS) UT Taiwan sukses menyelenggarakan webinar daring melalui platform Zoom Meeting dalam rangka memperingati Hari Buruh 2026 pada Minggu (24/5/2026). Mengangkat tema "Suara Migran, Media, dan Masa Depan Ketenagakerjaan di Taiwan," acara ini berhasil menarik antusiasme ratusan peserta yang didominasi oleh komunitas pekerja migran dan mahasiswa Indonesia di Taiwan.

Webinar ini dirancang sebagai wadah diskusi interaktif untuk membedah tantangan, peluang, serta peran strategis media dalam menyuarakan hak-hak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Acara dipandu secara dinamis oleh Eriyah, anggota aktif HIMMAS UT Taiwan yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC). 

Untuk mengupas tuntas tema besar tersebut, HIMMAS UT Taiwan menghadirkan dua narasumber utama yang berkompeten di bidangnya:

  1. Kaili Lee – Direktur GOH Migrants (The Garden of Hope Foundation), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang sejak 2010 aktif mendampingi, menyediakan rumah aman (shelter), serta memperjuangkan hak dan perlindungan hukum PMI di Taiwan.

  2. Linda Linarta – Penyiar senior dari RTISI Taiwan yang memiliki pengalaman kaya di dunia penyiaran dan fokus menjembatani informasi edukatif bagi masyarakat migran di perantauan.

Sebelum membedah materi inti, acara dibuka dengan rangkaian sambutan dari jajaran pengurus organisasi dan pihak Universitas Terbuka Layanan Luar Negeri (UTLLN) yang memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya webinar ini.

Ketua HIMMAS UT Taiwan, Rafif Jamil, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen nyata mahasiswa untuk terus hadir sebagai wadah dan agen edukasi bagi masyarakat migran.

"Melalui tema ini, kami ingin mengajak teman-teman PMI untuk tidak hanya fokus pada pekerjaan, tetapi juga melek informasi dan hukum. HIMMAS akan terus berkomitmen menjadi wadah yang mendukung peningkatan kapasitas diri para pekerja migran di Taiwan," ujar Rafif.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ibu Ida Rosida selaku Ketua Ormawa UTLLN. Beliau menekankan pentingnya sinergi antar-organisasi mahasiswa dalam mengawal isu-isu krusial seperti ketenagakerjaan.

Sementara itu, Ibu Dina yang mewakili UTLLN memberikan motivasi besar kepada para peserta. Beliau berpesan agar para pekerja yang juga berstatus mahasiswa bisa seimbang dalam membagi waktu antara bekerja, kuliah, dan kegiatan sosial. Ibu Dina juga memuji inisiatif HIMMAS yang sadar betul bahwa media punya peran penting untuk melindungi pekerja di zaman digital seperti sekarang.


Narasumber pertama, Kaili Lee selaku Direktur GOH Migrants (The Garden of Hope Foundation), banyak berbagi cerita tentang cara melindungi diri secara hukum dan menjaga kesejahteraan sosial selama bekerja di Taiwan, berkaca dari banyaknya kasus nyata yang sudah ditangani oleh GOH Migrants.


Di sesi kedua, Linda Linarta menjelaskan bahwa media (seperti koran, radio, TV, dan media sosial) bukan cuma alat hiburan, tapi punya tugas besar untuk menyebarkan berita yang benar dan meluruskan info yang salah. Melalui media yang resmi, suara dan keluhan para pekerja migran bisa tersampaikan dengan baik kepada publik dan pemerintah.

Linda juga menjabarkan 3 peran penting media dalam dunia kerja:

1. Menyuarakan Hak Menjadi penyambung lidah untuk membela hak-hak buruh.

2. Memberi Edukasi Membantu menjelaskan aturan kerja dan hukum yang sering kali sulit dipahami di        lapangan.

3. Menyediakan Data yang Benar Menyajikan berita yang jujur tentang pelatihan kerja, aturan hukum             terbaru, hingga membongkar kasus ketidakadilan.

Sebagai contoh nyata, Rti (Radio Taiwan International) Siaran Indonesia selalu rutin membuat konten yang berguna untuk PMI, mulai dari video panduan cara menyelamatkan diri saat gempa/bencana, sampai acara penghargaan untuk karya tulis teman-teman migran.

Bagian yang paling menarik dari webinar ini adalah ajakan agar semua PMI lebih cerdas dalam menyaring informasi di media sosial, supaya tidak gampang terhasut oleh berita bohong (hoaks).

Dalam diskusi ini, dibahas dua contoh kasus salah paham yang sempat bikin heboh:

  1. Sempat ada berita yang bikin panik tentang penghentian penerbangan ke luar negeri dan gosip pengiriman tentara ke Gaza akibat perang di Timur Tengah. Padahal, berita itu heboh hanya karena wartawan salah mengartikan ucapan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Media yang bersangkutan pun akhirnya meminta maaf. Di sini kita belajar bahwa berita harus berdasarkan fakta, bukan opini pribadi si penulis.

  2. Sempat viral komentar negatif dari sebagian buruh yang menganggap program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah tidak ada gunanya. Setelah diluruskan oleh Ketua Serikat Buruh (KSPSI), Andi Gani, ternyata yang mengeluh itu adalah buruh yang masih jomblo/lajang. Sedangkan bagi buruh yang sudah berkeluarga dan punya anak, program ini justru sangat membantu mengurangi beban ekonomi mereka.

Lewat edukasi ini, HIMMAS UT Taiwan berharap teman-teman PMI di Taiwan tidak langsung percaya begitu saja dengan info yang beredar di grup WhatsApp, Facebook, atau TikTok. Yuk, jadi pekerja yang kritis, cerdas digital, dan pintar menjaga diri dari hoaks demi keamanan dan kenyamanan kita selama bekerja di negeri orang!

Mau ikut kuliah atau seru-seruan bareng organisasi kami? Yuk, kenalan lebih dekat dan ikuti akun resmi HIMMAS UT Taiwan di:

  • Instagram: @himmas_utt

  • Facebook: Himmas Utt

  • TikTok: @himmasuttaiwan_

  • YouTube: Himmas UT Taiwan


penulis : Lidia Andriani 

Senin, 04 Mei 2026

Aksi Budaya dan Literasi Digital: Mahasiswa UT Membawa Dampak Nyata di Taiwan



TAIPEI,minggu 3 Mei 2026 —  Di tengah hiruk-pikuk kesibukan sebagai pekerja migran di Taiwan, semangat menuntut ilmu tidak pernah luntur bagi para mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Taiwan. Hal ini tergambar jelas dalam kegiatan Podcast Episode ke-2 yang diselenggarakan oleh HIMMAS UTT pada Minggu, pagi pukul 10:00-12:00 waktu Taiwan ,sedang diadakan diskusi bersama mahasiwa berbagai prodi dengan mengusung tema "Mahasiswa UT Memberi Dampak Nyata di Taiwan", diskusi ini menjadi ruang motivasi bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyeimbangkan peran menjadi pekerja di negeri orang sambil kuliah. Podcast kedua ini melibatkan anggota internal HIMMAS UTT yakni Lidia Andriani (divisi Humas) sebagai host, Jayati Manda sari (kadiv sosbud) , Erlangga Zuhry Pratama (divisi Media) serta Yuni Trisna Susanti (Ketua UTT peduli) sebagai  narasumber pada podcast ke-2 yang akan disiarkan langsung melalui platform digital TikTok.
 

Seperti biasanya sebelum membahas topik yang lebih mendalam pada podcast ke-2, host mengawali dengan pengenalan diri disambung sapaan pembukaan acara untuk seluruh penonton yang ada di Taiwan maupun di Indonesia serta narasumber yang sudah hadir pada acara podcast yang diselenggarakan secara daring di akun TikTok Himmas UT Taiwan.


Pada acara diskusi yang berlangsung selama dua jam ini menghadirkan sosok-sosok inspiratif, salah satunya Yuni Trisna Susanti, Ketua UT Taiwan Peduli. Dalam penyampaiannya, Yuni mematahkan stigma bahwa usia bukan penghalang untuk berkembang. Ia menegaskan bahwa kunci utama dalam menuntut ilmu adalah keberanian untuk memulai dan keteguhan hati untuk tidak memedulikan komentar negatif orang lain.
"Ilmu dan relasi bisa didapatkan di mana saja asalkan ada kemauan. Fokuslah pada diri sendiri dan jangan ragu untuk melangkah," ujar Yuni dalam sesi Live TikTok tersebut.
Selain berbicara tentang stigma negatif , Yuni juga menularkan jiwa positif kepeduliannya kepada seluruh PMI dan Mahasiswa yang ada di Taiwan untuk bisa membawa diri karena di negeri orang status kita hanya sementara , hindari pergaulan bebas supaya hidup lebih aman dan damai .


Kemudian disusul dengan narasumber kedua yang senada dengan Yuni, Erlangga Zuhry dari Divisi Media HIMMAS UTT mengajak para mahasiswa untuk tidak merasa rendah diri (minder) meskipun harus memulai segala sesuatunya dari nol. Di era yang serba cepat ini, tekad yang kuat sejak awal adalah fondasi keberhasilan.
Tak hanya soal mentalitas, podcast kali ini juga menyoroti pentingnya literasi digital, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), sebagai manusia yang diberikan keistimewaan kemampuan yang lebih jangan sampai terjebak oleh kecerdasan buatan , gunakan AI dengan bijak sebagai tempat tambahan ilmu bukan tempat ketergantungan. Ada kata-kata menarik yang dilontarkan Erlangga Zuhry “ Perubahan besar bukan lahir dari lompatan besar, tetapi ia lahir dari langkah yang kecil, ia adalah kebiasaan yang kamu ulangi disetiap harinya. Jadi mulai aja dulu,cicil sedikit demi sedikit, konsisten, dan percaya pada prosesnya. Karena orang yang sibuk pun juga bisa sukses, selama dia nggak berhenti melangkah.”
Kalimat tersebut ditekankan oleh Erlangga Zhury untuk memberikan dukungan emosional kepada seluruh PMI dan  Mahasiswa yang masih ragu untuk berani melangkah.


Narasumber ketiga tidak kalah menarik, Jayati Manda Sari, Kadiv Sosbud HIMMAS UTT, menekankan bahwa mahasiswa harus mampu memaksa diri keluar dari zona nyaman untuk menjadi pemenang. "Ayo dicoba!" menjadi kalimat penyemangatnya agar mahasiswa berani meng upgrade diri untuk membuktikan bahwa kemalasan dan keraguan bukan sebuah pilihan namun tekat semangat kuat yang akan memberikan warna dalam hidup. 
Manda menambahkan pemahamannya tentang budaya dan dobrakan semangat untuk seluruh PMI dan mahasiswa di Taiwan bahwa Meskipun arus globalisasi membawa pengaruh budaya asing, melestarikan dan membawa budaya sendiri ke luar negeri adalah cara ampuh untuk menyaring nilai luar sambil tetap mempertahankan kepribadian bangsa yaitu dengan tetap bangga pada budaya asli Indonesia meski sedang di negara orang.

Pada acara tersebut menciptakan suasana yang memiliki aura terpancar oleh kalimat dan kata-kata yang disampaikan para narasumber ditambah lagi ada pemandangan menarik dalam sesi kali ini; seluruh narasumber dan kru tampak kompak mengenakan almamater kuning kebanggaan UT ,Warna kuning cerah ini bukan sekadar identitas, melainkan simbol keceriaan dan optimisme yang menyelimuti proses diskusi.
Sebagai bentuk tindak lanjut dari semangat sosial yang dibahas.

Tambahan HIMMAS UTT juga mengumumkan rencana besar untuk bulan Oktober mendatang, yaitu agenda Study Tour bersama. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat solidaritas antar-mahasiswa sekaligus menjadi implementasi nyata dari poin-poin diskusi sosial budaya yang telah dibahas.

Penutup 
Melalui platform digital seperti TikTok, HIMMAS UTT berhasil membuktikan bahwa jarak dan kesibukan bukan penghalang untuk tetap berbagi dampak positif. Keberhasilan podcast edisi kedua ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia di Taiwan tidak hanya bekerja untuk materi, tetapi juga tumbuh secara intelektual dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi bagi sesama.


Penulis: Wahyu Rizki Pratama 

NGAJI MILENIAL LINTAS NEGARA: Kenapa Doa Kita Belum Terkabul?

 Berdoa merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus sarana bagi setiap hamba untuk berserah diri dan menyampaikan segala keinginan kepada S...